Main Article Content

Abstract

Indonesia is one of the countries that have the best tourist destinations in the world. This reality is supported by its natural wealth and various cultures. So that Indonesia is not only popular for its natural beauty but also for its historical tourist destinations. The crowning of Nagari Tuo Pariangan as the most beautiful village in the world by Travel Budget is proof of the existence of historical tourism in Indonesia. The purpose of this paper is to analyze Culture and Historical Tourism: The Existence of Historical Objects on Tourism Development in Pariagan, Tanah Datar Regency. This paper uses a qualitative descriptive approach, then analyzed using Creswell Analysis. The results showed that in Nagari Pariangan there are several historical tourism objects, but there are four popular objects including the long grave, Ishlah Mosque, Nasurek Stone, and Balai Saruang which greatly affect the existence of tourism development in Nagari Pariangan. On the policy side, the Regional Government supports the development of culture and history-based tourism, although not maximally.

Keywords

Culture Historical Tourism Historical Objects Paringan

Article Details

How to Cite
Mirdad, J., Bustamin, B., & Rustika A, D. . (2020). Kebudayaan dan Wisata Sejarah: Exsistensi Obyek Sejarah Terhadap Perkembangan Wisata di Pariangan Kabupaten Tanah Datar. Khazanah, 10(2), 215-226. https://doi.org/10.37108/khazanah.v10i2.307

References

  1. Adi, S. W., & Saputro, E. P. (2018). Potensi Wisata Berbasis Sejarah Budaya. Prosiding: The National Conferences Management and Business (NCMAB) 2018 “Pemberdayaan Dan Penguatan Daya Saing Bisnis Dalam Era Digital.”
  2. Amanda, G. (2017). Ini Masjid Pertama yang Berdiri di Ranah Minang. https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/11/08/oz2jmo423-ini-masjid-pertama-yang-berdiri-di-ranah-minang
  3. Anak Nagari Pariagan. (2016). Kuburan Panjang: Makam Arsitek Pertama Rumah Gadang di Minangkabau. http://anaknagaripariangan.blogspot.com/2016/10/kuburan-panjang-makam-arsitek-pertama.html
  4. Badan Pusat Statistik. (2016). Objek-wisata-menurut-kecamatan-jenis-dan-lokasi. BPS.Go.Id. https://tanahdatarkab.bps.go.id/statictable/2016/07/13/147/8-2-2-objek-wisata-menurut-kecamatan-jenis-dan-lokasi.html.
  5. Bungin Burhan. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif Aktualisasi Metodologis ke Arah Ragam Varian Kontemporer. Rajawali Pers.
  6. Creswell, J. W. (2016). Research Design. Pendekatan Metode Kualitatif Kuantitatif, dan Campuran. Edisi keempat. Pustaka Pelajar.
  7. Darmawan, D. A. (2015). Dampak Integrasi Pariwisata Asean terhadap Perekonomian Nasional dan Daerah. Dalam: Agus Syarip Hidayat (Editor). 2015. Persiapan Sektor Pariwisata Indonesia dalam menghadapi masyarakat Ekonomi ASEAN 2015. LIPI Press.
  8. Databoks. (2018). 2018, “Berapa Pendapatan Devisi dari Sektor Pariwisata Indonesia?”,. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/09/10/berapa-pendapatan-devisa-dari-sektor-pariwisata-indonesia
  9. Dian Kartika Santoso. (2016). Pengembangan Wisata Sejarah pada Lanskap Peninggalan Kerajaan Singosaro di Kabupaten Malang. Fakultas Pertanian.
  10. Etri Saputra. (2018). Pemkab Tanah Datar gali potensi dan pengembangan wisata daerah melalui dialog budaya. Antara Sumbar. https://sumbar.antaranews.com/berita/311584/pemkab-tanah-datar-gali-potensi-dan-pengembangan-wisata-daerah-melalui-dialog-budaya
  11. Febby Eka Kurnia., R. M. (2015). Folklor Minangkabau: Mitos Batu-Batu dan Cerita Rakyat di Luhak Nan Tuo. In Suri.
  12. Hendrita, V. (2017). Kebijakan Pengembangan Pariwisata Di Kabupaten Tanah Datar. Agrifo?: Jurnal Agribisnis Universitas Malikussaleh, 2(2), 73. https://doi.org/10.29103/ag.v2i2.379.
  13. Irwwan. (2018). Nitologi & legenda di Desa Terindah di Dunia. Padang: CV. Jasa Surya.
  14. J.J. Spillane. (1987). Pariwisata Indonesia Sejarah dan Prospeknya. Kanisius.
  15. Jeni Khairiah. (2009). Pengaruh Perkembangan Pariwisata Terhadap Kebudayaan dan Bahasa. Universitas Sumatera Utara.
  16. Kirom, N. R., Sudarmiatin, S., & Adi Putra, I. W. J. (2016). Faktor-Faktor Penentu Daya Tarik Wisata Budaya Dan Pengaruhnya Terhadap Kepuasan Wisatawan. Jurnal Pendidikan - Teori, Penelitian, Dan Pengembangan, 1(3), 536–546. https://doi.org/10.17977/jp.v1i3.6184
  17. Masjid, R. D. (n.d.). Masjid Ishlah di Bangun Oleh Empat Taungku. https://duniamasjid.islamic-center.or.id/1007/masjid-islah/
  18. Muhammad Jamil, L. S. (2017). Pariangan Mutiara Yang Hilang. CV Minang Lestari Padang Panjang.
  19. Muhammad Jamil Labai Sampono. (2018). Pariangan Mutiara yang Hilang. CV Minang Lestari Padang Panjang.
  20. Myrna Sukmaratri. (2018). Kajian Objek Wisata Sejarah Berdasarkan Kelayakan Lanskap Sejarah di Kota palembang. Jurnal Planologi., Vol. 15. N.
  21. Nurmatias. (2019a). Balairung Sari Tabek. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/balairung-sari-tabek/
  22. Nurmatias. (2019b). Prasasti Pariangan. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/prasasti-pariangan/
  23. Prokabar.com, R. (2018). Masjid Tuo Pariangan, Dari Pusat Kegiatan Masyarakat Sampai Objek Wisata. https://prokabar.com/masjid-tuo-pariangan-dari-pusat-kegiatan-masyarakat-sampai-objek-wisata/
  24. Radhika Kapur. (2018). The Significance of Religious Toirism. https://www.researchgate.net/publication/328412778_The_Significance_of_Religious_Tourism. Diakses pada tanggal 2 Mei 2019.
  25. Selvia Maryam. (2011). Pendekatan SWOT dalam pengembangan Objek Wisata Kampoeng Djowo Sekatul Kabupaten Kendal. Universitas Diponogoro.
  26. Shankar, S. (2015). Impact of Heritage Tourism in India – A Case Study. International Journal of Innovative Research in Information Security (IJIRIS), 6(2), 2014–2016.
  27. Siswanto. (2007). Pariwisata dan Pelestarian Warisan Budaya. Berkala Arkeologi Tahun XXVII.
  28. Suwantoro., G. (2004). Dasar-Dasar Pariwisata. Andi Offset.
  29. Tim Penulis. (2017). Monografi nagari Pariangan (belum diterbitkan)