##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada fungsi dan keberlangsungan seni senjang yang masih ada sampai saat ini. Senjang merupakan bagian dari sastra Melayu berbentuk pantun yang terdiri dari sampiran dan isi. Uniknya pantun dalam Senjang  tidak selalu sama antara sampiran dan isi. Bisa jadi sampirannya terdiri dari enam baris, sedangkan isinya terdiri dari tujuh baris. Selain itu senjang ditampilkan dengan memadukan antara syair, musik dan tari. Senjang yang mengalami perubahan baik bentuk maupun fungsinya.Keberlangsungan senjang juga didukung oleh adaptasi pada sspek fungsi. Fungsi senjang yang pada awalnya adalah terbatas pada fungsi estetis yang fokus sebagai media hiburan, dikembangkan fungsinya meliputi fungsi pragmatis, etis dan historis. Dengan fungsi yang berkembang, senjang tidak hanya menjadi media hiburan, lebih dari itu senjang menjadi alternative bagi berbagai pihak sebagai media propaganda, media pendidikan,  dan media informasi.

Keywords

senjang, pantun, media informasi, budaya

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

How to Cite
Nurmalina, N., & Syafran Afriansyah. (2023). Fungsi dan Keberlangsungan Seni Senjang Masyarakat Musi Banyuasin. Khazanah: Jurnal Sejarah Dan Kebudayaan Islam, 13(1), 75–86. Retrieved from https://rjfahuinib.org/index.php/khazanah/article/view/950

##journal.references##

  1. Apriadi, B., and E. D. Chairunisa. “Senjang: Sejarah Tradisi Lisan Masyarakat Musi Banyuasin.” Kalpataru Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah 4, no. 2 (2018): 124–128.
  2. Ardiansyah, Arif. “Pemanfaatan Tradisi Lisan Senjang Musi Banyuasin Sumatra Selatan Sebagai Identitas Kultural.” Pembahsi?: Jurnal Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia 6, no. 1 (2016): 79–94.
  3. Braginsky, V.I. Yang Indah, Berfaedah Dan Kamal?: Sastra Melayu Dalam Abad 7-19. Jakarta: INIS, 1998.
  4. Dahlan, Ahmad. Sejarah Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014.
  5. FinFinnegan, Ruth. Oral Traditions and The Verbal Art. A Guide to Research Practices. New York: Routledge, 1992.
  6. Haris, Yusman. Bumi Serasan Sekate Dan Penduduknya. Pemko Musi. Musi Banyuasin, 2003.
  7. ———. Pergolakan-Pergolakan Di Daerah Musi Banyuasin. Musi Banyuasin: Pemko Musi Banyuasin., 2010.
  8. Isabella, and Periansyah. “Upaya Pencegahan Faham Radikalisme Dan Terorisme Melalui Kearifan Lokal.” Jurnal Pemerintahan Dan Politik 6, no. 1 (2021): 15–21. http://ejournal.uigm.ac.id/index.php/PDP/article/view/1314/1217.
  9. Karim, Maizar. Menyelisik Sastra Melayu. Yogyakarta: Histokultura, 2015.
  10. Karlina, Nanda Moudy. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Media Audiovisual Senjang Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Ibu Mengenai Diare Di Desa Lumpatan Musi Banyuasin. Palembang, 2019.
  11. Kurniawan, Irfan, and Juli Saputra. “Bentuk Penyajian Kesenian Senjang Dalam Konteks Acara Seremonial Di Kota Sekayu.” Besaung?: Jurnal Seni Desain dan Budaya 5, no. 2 (2020): 105–113.
  12. Peeters, Jeroen. Kaum Tuo-Kaum Mudo?: Perubahan Religius Di Palembang 1821-1942. Jakarta: Inis, 1997.
  13. Sukma, Irawan. “Kesenian Senjang Dalam Hegemoni Kekuasaan.” Besaung?: Jurnal Seni Desain dan Budaya 6, no. 1 (2021).
  14. ———. “Pergeseran Fungsi Kesenian Senjang Pada Masyarakat Musi Banyuasin Sumatera Selatan?: Antara Tradisi Dan Modernisasi Dalam Arus Globalisasi.” Jurnal Pakareba 4, no. 2 (2020): 1–8.
  15. Sukma, Irawan, and Slamet T. Suparno. “Kesenian Senjang Antara Tradisi Dalam Arus Globalisasi Sebagai Media Propaganda.” Dewa Ruci: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni 13, no. 2 (2018): 122–131.
  16. Vansina, Jan. Tradisi Lisan Sebagai Sejarah. Yogyakarta: Ombak, 2014.