##plugins.themes.academic_pro.article.main##

Abstract

Tujuan peneltian dalam artikel ini adalah untuk memetakan dan meninfentaris bentuk-bentuk sufisme yang berkembang di perkotaan di zaman modern ini. Sufisme yang identik dengan pedesaan (rural) sering dicap dengan keterbelakangan, tradisional dan digeluti orang-orang dari kalangan menengah ke bawah. Sementara itu muncul beberapa gerakan baru di kota-kota besar usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dalam bentuk sufisme. Untuk mendapatkan informasi tersebut maka dilakukan kajian kepustakaan yang terkait dengan tema tersebut. Di antara sumber kepustakaan tersebut terdapat kajian-kajain yang mendalam tentang sufisme yang sudah mapan seperti tarekat, dan sufsme yang melembaga seperti kajian-kajian keagamaan yang diorganisir oleh Lembaga Pendidikan, Yayasan keagamaan dan organisasi kemasyakrakatan. Dari penelusuran peneliti maka didapatkan ada tiga tipologi sufisme yang berkembang di perkotaan. Pertama tarekat ortodoks, tarekat marginal dan persekutuan sufi modern.

Keywords

eksistensi sufisme urban

##plugins.themes.academic_pro.article.details##

How to Cite
Gazali, G., & Efendi, E. (2023). Urban Sufisme Eksistensi Tasawuf di Perkotaan. Majalah Ilmiah Tabuah: Ta`limat, Budaya, Agama Dan Humaniora, 27(1), 49–56. https://doi.org/10.37108/tabuah.v27i1.951

##journal.references##

  1. Gazali, G. (2015). Tarekat Naqsyabandi Haqqani Di Indonesia. Deepublish.
  2. Hidayat, K. (2005). Islam Negara & Civil Society Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer. Paramadina.
  3. Howell, J. D. (2000). Pola Kelembagaan Sufi: Model, Organisasi, Jaringan dan Aktifitasnya.
  4. Janah, N. (2017). Nurcholish Madjid dan Pemikirannya (Diantara Kontribusi dan Kontroversi). Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 12(1), 44–63.
  5. Killian, C. (2007). From a community of believers to an Islam of the heart:“Conspicuous” symbols, Muslim practices, and the privatization of religion in France. Sociology of Religion, 68(3), 305–320.
  6. Majelis Ulama Indonesia. (2011). Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975. Sekretarian MUI dan Penerbit Erlangga.
  7. Munawar-Rachman, B. (2022). Pemikiran Islam Nurcholish Madjid. Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
  8. Nurcholish Madjid. (2008). Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan. Mizan.
  9. Saputra, D. (2022). SEJARAH DAN PERKEMBANGAN JAMI’YYAH AHLITH THARIQAH AL-MU’TABARAH AN-NAHDLIYYAH (JATMAN) DI CIREBON (2010–2021 M). IAIN SYEKH NURJATI. S1 SPI.
  10. Van Bruinessen, M. M. (1992). Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya.
  11. Zed, M. (2008). Metode penelitian kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
  12. Gazali, G. (2015). Tarekat Naqsyabandi Haqqani Di Indonesia. Deepublish.
  13. Hidayat, K. (2005). Islam Negara & Civil Society Gerakan dan Pemikiran Islam Kontemporer. Paramadina.
  14. Howell, J. D. (2000). Pola Kelembagaan Sufi: Model, Organisasi, Jaringan dan Aktifitasnya.
  15. Janah, N. (2017). Nurcholish Madjid dan Pemikirannya (Diantara Kontribusi dan Kontroversi). Cakrawala: Jurnal Studi Islam, 12(1), 44–63.
  16. Killian, C. (2007). From a community of believers to an Islam of the heart:“Conspicuous” symbols, Muslim practices, and the privatization of religion in France. Sociology of Religion, 68(3), 305–320.
  17. Majelis Ulama Indonesia. (2011). Himpunan Fatwa MUI Sejak 1975. Sekretarian MUI dan Penerbit Erlangga.
  18. Munawar-Rachman, B. (2022). Pemikiran Islam Nurcholish Madjid. Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
  19. Nurcholish Madjid. (2008). Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan. Mizan.
  20. Saputra, D. (2022). SEJARAH DAN PERKEMBANGAN JAMI’YYAH AHLITH THARIQAH AL-MU’TABARAH AN-NAHDLIYYAH (JATMAN) DI CIREBON (2010–2021 M). IAIN SYEKH NURJATI. S1 SPI.
  21. Van Bruinessen, M. M. (1992). Gerakan sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya.
  22. Zed, M. (2008). Metode penelitian kepustakaan. Yayasan Pustaka Obor Indonesia.