Main Article Content

Abstract

Aksara ulu atau kaganga menjadi kekayaan budaya masyarakat tepian sungai di Sumatera bagian Selatan.Diperkirakan, aksara itu tumbuh sejak abad ke-12 Masehi dan berkembang pesat pada abad ke-17-19 Masehi. Naskah ulu banyak digunakan untuk menyampaikan ajaran agama, ilmu kedokteran, petuah, dan kearifan lokal lain. Keberadaan aksara ulu tersebut menunjukkan, budaya tepian sungai memiliki tradisi intelektualisme cukup tinggi.Disebut aksara ulu karena banyak berkembang dalam masyarakat yang tinggal di hulu sungai di pedalaman.Beberapa sumber lain menyebutkan bahwa naskah Gelumpai merupakan peninggalan masa lalu di wilayah uluan dan ada yang diproduksi sekitar abad ke-16 hingga 17 M. Naskah Gelumpai menunjukkan dinamika sosial, politik dan agama masyarakat di wilayah Uluan Palembang. Dalam struktur kekuasaan serta kawasan wilayah masyarakatnya, di Palembang terbagi menjadi dua yakni masyarakat iliran dan masyarakat uluan. Salah satu naskah gelumpai dalam kajian ini adalah naskah yang terdiri dari 14 bilah-bilah bambu.Naskah ini dibuat sekitar abad ke-16-17 Masehi.yang diproduksi oleh kalangan ulama Kesultanan Palembang Darussalam. Aksara hulu yang digunakan atau ka-ga-nga merupakan perpaduan dari bahasa local dan bahasa Jawa.Isi dari naskah ini menceritakan tentang profil, karakter dan nilai-nilai sosial, serta ajakan dalam merujuk Islam sebagai syariat kehidupan. Berdasarkan data yang dihimpun peneliti, bahwa naskah ini sebagai media dalam penyebaran agama Islam di wilayah huluan palembang. Selain itu, sebagai naskah yang diterbitkan oleh Kesultanan, ini menunjukkan bahwa agama Islam sebagai pengikat masyarakat huluan  terhadap eksistensi Kesultanan Palembang Darussalam. Naskah “gelumpai” lainnya yakni naskah yang terdiri dari 8 bilah bambu. Naskah ini berasal dari sub Etnis Melayu yang menempati kawasan Musi Rawas saat ini. Teks dalam naskah tersebut menggunakan aksara ulu, serta tidak mempunyai judul.Namun demikian jika dilihat dari isi teksnya, naskah berisikan tentang ajaran-ajaran dalam Agama Hindu. Naskah lainnya merupakan naskah yang teksnya ditulis dengan aksara ulu sebanyak 23 bilah atau 23 keping bambu.Nomor urut keping 1 sampai dengan 23 dalam awal kalimat menggunakan tanda *.Jika dilihat dari isinya naskah ini merupakan amalan serta ajaran-ajaran dari Agama Hindu.

Keywords

Naskah Kuno Gelumpai Aksara Ulu Ajaran Hindu

Article Details

How to Cite
Ottoman , O. ., & Rochmiatun, E. (2020). Kearifan Budaya Lokal Dalam Naskah-Naskah Kuno di Uluan. Tabuah, 24(1), 91-106. Retrieved from https://rjfahuinib.org/index.php/tabuah/article/view/256

References

  1. Abdul Hadi dkk. 2009. Indonesia dalam Arus Sejarah : Kedatangan dan Peradaban Islam.Jakarta : PT. Ikhtiar Baru van Hoeve.
  2. Ahmad Rapanie Igama. 2005. Gelumpai Tentang Nabi Muhammad.Palembang : Dinas Pendidikan Nasional.
  3. Akib, R.H.M. 1978Sejarah Perjuangan Sri sultan Mahmoed Badaruddin II. Palembang.
  4. Arifin, Razi1992“Upaya Perintisan ketatabahasaan Lampung Dalam rangka Pemantapan Kebudayaan Nasional (Suatu tinjauan tentang tingkat bahasa tingkat tutur Bahasa Lampung).Makalah dalam Seminar Aksara lampung.Teluk betung-Bandar Lampung.
  5. Andhifani, Wahyu Rizky. 2010. Survei Sumatera Selatan Bagian Kedua (KotaLubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Empat Lawang, Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Banyuasin) Persebaran Naskah Ulu. Laporan Penelitian. Palembang: Balai Arkeologi.
  6. Andhifani, Wahyu Rizky. 2011, Survei Sumatera Selatan Bagian Ketiga (Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan) Persebaran Naskah Ulu . Laporan Penelitian.Palembang: Balai Arkeologi.
  7. Andhifani, Wahyu Rizky. 2012. Survei naskah Kuna Kabupaten Merangin, Kabupaten
  8. Baroroh, Siti. dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta: Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas (BPPF) Seksi Filologi, Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.
  9. Darmosugoto, Astuti 1997 Indonesia Indah “ Aksara”Jakarta: Yayasan Harapan Kita/BP 3 TMII
  10. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Dirjen Kebud. Museum Negeri Propinsi Sumatra Selatan “ Balaputra Dewa.” 1994/`995 Koleksi Museum Negeri Propinsi Sumatra Selatan” Balaputra Dewa. Palembang, jilid II,
  11. Dedi Irwanto dkk. 2010. Iliran dan Uluan : Dinamika dan Dikotomi Sejarah Kultural Palembang.Yogjakarta : Eja Publisher.
  12. Heyne, K 1987Tumbuhan Berguna Indonesia, terj. Badan Litbang Kehutanan Jakarta.
  13. Ikram, Achadiati. 1997. Filologia Nusantara. Jakarta: Pustaka Jaya.Kartakusuma,
  14. Ismail, Arlan. 2002. Periodisasi Sejarah Sriwijaya. Palembang: Unanti Press
  15. J.Ong, Walter. 2013. Kelisanan dan Keaksaraan. Yogjakarta : Gading.
  16. Kusumawati, Ayu dan Haris Sukendar. 2003. Sumba, Relegi dan Tradisinya. Denpasar: Balai Arkeologi.
  17. Lubis, Nabilah. 1996. Naskah, Teks dan Metodologi Penelitian Filologi. Jakarta: Forum Kajian Sastra Arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah.Vanadiputra, Saliwo. 2004. Asala Muasal Orang Lampung.
  18. Salinan Manuskrip Gelumpai, tp. tt
  19. Salinan Manuskrip Gelumpai, Koleksi PNRI dengan kode E peti 93 no 18.
  20. Naskah Gelumpai, Koleksi Museum Balaputradewa dengan kode 07.17.
  21. Mansur Suryanegara, Ahmad. 2013. Api Sejarah Jilid I. Bandung: Salamadani.
  22. Mardsen, William. 2013. Sejarah Sumatra. Jakarta: Komunitas Ombak
  23. Mastuti, Yeni, “Profil Nabi Muhammad dalam Naskah Gelumpai dan Barzanji” dalam Metasastra, Volume 7 Nomor 1, Juni 2014
  24. Peeters, Jeroen. 1997. Kaum Tuo-Kaum Mudo: Perubahan Religius di Palembang 1821-1942.Jakarta : INIS.
  25. Pires, Tome. 2015. Suma Oriental. Yogjakarta : Ombak.
  26. Reid, Anthony. 2015. Asia Tenggara dalam Kurun Waktu Niaga 1450-1680. Jakarta : Buku Obor.
  27. Van Leur, J.C. 2015.Perdagangan & Masyarakat Indonesia: Esai-esai Tentang Sejarah Sosial dan Ekonomi Asia. Yogyakarta: Ombak
  28. Pudjiastuti, Titik1997 Aksara dan Naskah Kuna Lampung dalam Pandangan Masyarakat Lampung Kini. Jakarta: Depdikbud
  29. Teygeler, Rene 1993 “ Pustaha. A study into the production process of the Batak Book in BKI deel 149, 3e aflevering
  30. Kerinci dan Kota Sungai Penuh (Persebaran Naskah Incung).Laporan Penelitian. Palembang: Balai Arkeologi.