Main Article Content

Abstract

Indonesia merilis perbedaan istilah-istilah tersebut, yaitu Cina, China, Tionghoa dan Tiongkok. Cina adalah sebutan untuk orang yang berwarga negara Cina yang setara dengan orang Jepang, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Indonesia yang berarti warga negara asing. Kemudian China (dengan tambahan ‘h’) adalah penulisan resmi oleh Kedutaan Republik Rakyat Cina yang merujuk pada negara Republik Rakyat China (RRC) dalam bahasa Indonesia. Istilah Tionghoa adalah sebutan untuk orang-orang keturunan Cina di Indonesia yang sepadan dengan orang Jawa, Sunda, Madura, Batak, dan lain-lain. Sedangkan Tiongkok adalah penyebutan negara China untuk Indo-nesia. Dalam kaitan ini Presiden SBY pada 14 Maret 2014  mengubah istilah China dengan sebutan Tionghoa. Pencabutan surat edaran itu berdasarkan Keppres Nomor 12 Tahun 2014 yang ditandatanganinya.


Sejarah tentang Muslim Tonghoa di Sumatera Barat tidak dapat dipisahkan dari sejarah masuknya agama Islam ke wilayah Nusantara, Muslim Tionghoa merupakan salah satu komunitas masyarakat yang berada di Indonesia yang berasal dari Tionghoa. Sebutan Tionghoa merujuk kepada identitas masyarakat yang berasal dari kawasan Tiongkok.


Teori lain tentang keberadaan China di Padang adalah berasal dari Pariaman. Menurut Ernawati, dalam buku Asap Hio di Ranah Minang, bahwa komunitas Tionghoa di Sumatera Barat sudah berada di Pariaman sejak abad XII Masehi. Saat Aceh masuk ke Pariaman, kawasan ini menjadi surga bagi kaum pedagang di zaman itu.

Keywords

Peran Startegi PITI Sumatera Barat

Article Details

How to Cite
Nofra, D. N., & Kharisma, I. (2019). PERAN STRATEGIS PITI SUMATERA BARAT . Majalah Ilmiah Tabuah : Ta`limat, Budaya, Agama Dan Humaniora, 129-142. https://doi.org/10.37108/tabuah.vi.240

References

  1. Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII: Akar Pembaharuan Islam Indonesia, Jakarta: kencana Prenada Media Group, 2004.
  2. Abd. Ghofur, “Tela’ah Kritis Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara” dalam Jurnal Ushuluddin, Vol. XVII No. 2, Juli 2011.
  3. Ahmad Mansur Surya Negara, Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam di Indonesia, Bandung: Mizan 2002.
  4. Fajar Apandi, “Islamisasi di Jawa Barat Abad XV”, Skripsi Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.
  5. Fadil Wicaksono, “Peranan Cheng Ho dalam Perkem-bangan Agama Islam di Indonesia Tahun 1405-1433” dalam Skripsi Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 2014.
  6. Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibbah di Nusantara, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor, 2000
  7. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Sejahtera, 2010.
  8. M. Abdul Karim. “Teori Jalur India Tentang Masuknya Islam di Indonesia (Studi Teori Bangla dan Gujarat)”, Makalah tanpa tahun terbit, h. 15
  9. M. Naquib al-Attas, Islam and Secularisme, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.
  10. Mumuh Muhsin, “Islam di antara China dan Nusantara”, Makalah dalam Bedah Buku, oleh Selasar Pusat Kajian Lintas Budaya, Bandung: Universitas Padjajaran, 2007.
  11. Naquib al-Attas, Islam dalam Sejarah Melayu, Bandung: Mizan, 1997
  12. Rosita Baiti, “Teori Dan Proses Islamisasi Di Indonesia” dalam Jurnal Wardah, no. XXVIII/ th. XV/Desember 2014.
  13. Rizal Sukma dan Clara Joewono, Gerakan Pemikiran Islam Indonesia Kontemporer, Yogyakarta: Kanisius, 2007.
  14. Ira Lapidus. M, Sejarah Sosial Umat Islam, Jakarta: PT Raja grafindo,1999.
  15. Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Kerajaan Islam di Nusantara, Yogyakarta: LKiS, 2007.
  16. Sumanto al-Qurtuby, Arus China-Islam Jawa; Bongkar Sejarah Atas Peranan Tionghoa Dalam Penyebaran Agama Islam di Nusantara Abad XV-XVI.
  17. Sumanto al-Qurtuby, Arus China-Islam-Jawa, Yogyakarta: Inspeal Ahimsakarya Press, 2003.
  18. Tan Ta Sen, Cheng Ho: Penyebar Islam Dari China ke Nusantara, Jakarta: Kompas, 2010.