Pers Pasca Orde Baru: Sebuah Tinjauan Sejarah Kontemporer

Main Article Content

Aditia Muara Padiatra

Abstract

Pers adalah setiap kegiatan dalam mengelola informasi, dalam artian informasi apa saja, mulai dari membaca surat kabar, menonton televisi di depan ruang tamu, ataupun hanya sekedar berselancar di internet, kesemua kegiatan ini membuat kita bersentuhan kepada hal yang disebut dengan media atau pers. Dalam setiap masanya dalam belantika sejarah Indonesia, pers mempunyai kisahnya sendiri yang menarik untuk diteliti, tidak terkecuali pula pada masa pasca Orde Baru atau masa reformasi dimana pers dianggap bebas dalam memberitakan segala informasi, bahkan cenderung kebablasan. Menarik untuk disimak bagaimana para sejarawan merespon pers pada masa ini sebagai bagian dari historiografi kontemporer yang ada di Indonesia.


Keywords : Sejarah, Pers, Reformasi


Abstract


The press is every activity in managing information, in terms of any information, starting from reading newspapers, watching television in front of the living room, or just surfing the internet, all of these activities make us in contact with what is called the media or press. In each time within Indonesia history, the press has its own interesting story to study, especially in the post-New Order or the reformation era where the press was considered free in reporting all information, and even tended to be excessive. It is interesting to see how historians respond to the press at this time as part of the contemporary historiography in Indonesia.

Article Details

How to Cite
Padiatra, A. M. (2020). Pers Pasca Orde Baru: Sebuah Tinjauan Sejarah Kontemporer. Khazanah, 10(1). Retrieved from https://rjfahuinib.org/index.php/khazanah/article/view/269
Section
Articles

References

DAFTAR PUSTAKA
Abar, Akhmad Zaini. 1995. 1966-1974 Kisah Pers Indonesia. Yogyakarta: LkiS.
Adam, Ahmat. 2003. Sejarah Awal Pers dan Kebangkitan Kesadaran Keindonesiaan. Jakarta: Hasta Mitra.
Danil Mahmud Chaniago, Umi Rusmiani Umairah. 2018. “Sejarah Pers Kolonial di Indonesia.” Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam 8 (16): 27–43.
Effendy, Onong Uchjana. 2003. Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Godfried Hariowald Von Faber. 1930. A Short History of Journalism in Dutch East Indies. Surabaja: G. Kolff & Company.
Gonggong, Anhar, ed. 2005. Sketsa Perjalanan Bangsa Berdemokrasi. Jakarta: Departemen Komunikasi dan Informatika.
Hill, David T. 2011. Pers di Masa Orde Baru. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
J Heru Margianto dan Asep Syaefullah. 2014. Media Online: Pembaca, Laba, dan Etika Problematika Praktik Jurnalisme Online di Indonesia. Jakarta: AJI Indonesia – Ford Foundation.
Kuntowijoyo. 2001. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.
Kusuma, Satria. 2016. “Posisi Media Cetak di tengah Perkembangan Media Online di Indonesia.” Interact Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Atma Jaya 5 (1).
Mirjam Maters. 2003. Dari Perintah halus ke Tindakan Keras: Pers Zaman Kolonial antara Kebebasan dan Pemberangusan 1906-1942. Jakarta: Hasta Mitra dan Pustaka Utan Kayu.
Smith, Edward Cecil. 1983. Sejarah Pembredelan Pers di Indonesia. Jakarta: Graffiti Pers.
Surjomiharjo, Abdurrachman. 1980. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: Proyek Penelitian Pengembangan Penerangan Departemen Penerangan RI.
Suwignyo, Agus. 2018. “Kita and Dunia Kontemporer (Atau Mengapa Sejarawan Harus Menyesuaikan Cara Kerjanya Dengan Tuntutan Perkembangan Teknologi Informasi Digital).” Sasdaya: Gadjah Mada Journal of Humanities 2 (2): 393–404.
Utama, Nanda Julian. 2015. “Slogan-Slogan Kebohongan: Propaganda-Propaganda Politik Jepang tentang Perang Pasifik pada Koran Asia Raya di Indonesia 1944-1945.” In International Conference on Language, Culture, and Society 2015 (ICLCS), Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.